Krisis multidimensional yang melanda bangsa Indonsia sejak
tahun1996 tidak saja melumpuhkan dunia usaha, tetapi juga mengoyahkan
sendi-sendi kesejahteraan masyarakat luas. Dunia kerja menjadi kian sempit,
sementara masyarakat yang membutuhkan kerja terus meningkat. Adanya pegangguran
dalam anggota keluarga berarti masalah bagi anggota keluarga lainnya. Mengapa?
Karena mereka terpaksa menanggung beban hidup anggota keluarga yang menganggur.
Itu artinya penggangguran yang disebabkan oleh ketiadaan lapangan kerja akhirnya
menjadi beban tanggungan masyarakat lain juga. Pengangguran ini bukanlah hasil
sebuah pilihan untuk tidak bekerja tetapi akibat dari semakin sulit mendapatkan
pekerjaan.
Lapangan kerja yang terbatas membuat orang mencari jalan
untuk bertahan hidup agar dapat hidup baik. Itulah sebabnya dibutuhkan perilaku
wirausaha. Nah.! Untuk menumbuhkan perilaku wirausaha pada masyarakat luas, khusus
para pencari kerja akan sangat penting dan strategis bagi pengembangan sumber
daya manusia Indonesia yang bermutu. Dengan demikian mereka dapat memilki
kejelian dalam menciptakan peluang usaha sendiri yang kreatif dan proaktif,
mengembangkan usaha tanpa meninggalkan potensi lokal dalam menghadapi pasar
global.
Fakta lain berbcara; disinyalir bahwa banyak pengangguran
yang kita jumpai di tengah masyarakat justru lahir dari sekolah-sekolah negeri.
Bila dicermati lebih jauh 80an% pengangguran adalah ouput dari sekolah-sekolah
negeri. Mengapa?? Tak bisa dipungkiri bahwa orientasi pendidikan yang ada di
sekolah menengah atas negeri bukan untuk menciptakan lapangan kerja atau untuk berwirausaha
sebagaimana yang terjadi di sekolah-sekolah kejuruan lainnya, tetapi penekanan
lebih pada pengetahuan konseptual tanpa skill berwirausaha kepada peserta didik
sebagai bekal untuk kemudian berkompetensi di jenjang pendidikan yang lebih
tinggi, yang belum tentu mendapatkan lapangan kerja di kemudian hari. Dan
memang faktanya demikian, bahwa siswa yang melanjutkan pendidikan di sekolah
menengah atas khususnya yang negeri, setelah selesai/tamat, tidak ada pilihan
lain selain kuliah, itu pun kalau orang tuanya mampu membiayai kuliahnya.
Sebaliknya kalau orang tua tidak mampu, jelas pengangguran jawabannya. Ini problem..!! ini masalah yang mesti
diatasi..!
Pemerintah Indonesia menyadari akan problem ini. Bahwa
persoalan penggangguran yang kebanyakan adalah output dari sekolah-sekolah
negeri harus diminimalisir. Salah satu upaya untuk meminimalisir persoalan ini
adalah dengan menghadirkan program kewirausahaan di sekolah-sekolah negeri. SMA
Negeri 1 Insana merupakan salah satu sekolah negeri di kecamatan Insana,
Kabupaten TTU yang menerima program kewirausahaan ini. Melalui kementrian
pendidikan, pemerintah menguncurkan dana program kewirausahaan sebesar
Rp.100.000.000 (Seratus Juta Rupiah). Dengan dana yang ada diharapkan
siswa-siswi SMA Negeri 1 Insana dapat belajar untuk berwirausaha sehingga kelak
bisa berwirausaha setelah menyelesaikan pendidiknnya di SMA.
Adapun upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah (SMA Negeri 1 Insana) dalam merespon program
yang bagus ini. Di antaranya siswa-siswi dibagi dalam kelompok-kelompok usaha.
Penentuan anggota kelompok didasarkan pada sonasi tempat tinggal peserta didik
sehinggga memudahkan mereka untuk saling berkoordinasi dan bekerja sama dalam
mnejalankan usahanya nanti. Jumlah anggota kelompok bervaratif
mulai dari 5 orang hingg 20 orang tergantung dari jenis usaha yang bakal
dijalankan. Sebelum kelompok-kelompok menjalankan kegiatan usahanya, sekolah
mendatangkan tokoh-tokoh yang berpengalaman dan berkompeten dibidang wirausaha
untuk membekali siswa-siswi dengan pelatihan dan motivasi.
No comments:
Post a Comment