Monit tababua, tokot tababua, nane nak nek
mese ma ansaof mese, demikian ungkapan filosofi orang dawan TTU dalam
mengekspresikan makna persaudaraan satu terhadap yang lain. Persaudaraan itu
lasimnya terungkap melalui melalui ha-hal sederhana. Penyuluh Agama Katolik Non
PNS sekabupaten TTU telah membuktikan makna persaudaraan itu, melalui kunjungan
mereka dalam Zavari kerukunan di Paroki Oeolo, Dekenat Kefamenanu, Keuskupan
Atambua.
Rombongan
Penyuluh Agama Katolik Non PNS yang dipimpin oleh Kasi Urakat Bapak Drs. Mikhael
Nino, M.Si tiba di paroki Oeolo sekitar jam 17.30 sore. Walau sederhana namun
momentum perjumpaan begitu menghangatkan dan menggairahkan. Antusiasme umat
yang diwakili oleh beberapa tokoh adat dengan sapa’an penyambutan khas orang
dawan “takanab/natoni” serta kehadiran beberapa orang perwakilan DPP Paroki dan
anak-anak sekami menjadi awal rajutan persaudaraan. Rajutan persaudaraan yang
berlansung selama dua hari sabtu dan minggu (15-16/06/2019), dilanjutkan dengan
kegiatan bersama di aula paroki dan panggung Paroki santa Maria Ratu Oeolo.
Kegiatan-kegiatan
rajutan persaudaraan yang dibangun seperti; pemutaran film rohani, malam
hiburan yang dimeriahkan oleh band seroja dan tanggungan koor misa hari minggu. Melalui kegiatan-kegiatan
ini para penyuluh agama katolik non PNS mengamalkan tugas pokok sebagai
penyuluh yang selalalu menjadi pemersatu kebinekaan. Kegiatan yang mengundang
decak kagum umat adalah lantunan nyanyian misa paduan suara Seroja Choir pada
perayaan ekaristi hari minggu memperingati hari raya Tritunggal Mahakudus. Lantunan
nyanyian misa yang dikumandangkan oleh paduan suara penyuluh agama katolik non
PNS “seroja choir” selain mengumat, menjadikan perayaan ekaristinya begitu
meriah dan sakral, sekaligus menghantar umat dalam permenungan mendalam akan
misteri Allah Tritunggal Mahakudus.
Rm.
Yansen Faintaono, Pr pemimpin perayaan ekaristi hari itu, dalam kotbahnya menyampaikan
bahwa kita umat katolik harus bangga karena mengimani Allah Tritunggal
Mahakudus. Dengan bahasa sederhana romo memberi pemahaman kepada umat akan
makna Allah Tritunggal. Bahwa Allah yang kita mengerti sebagai pencipta alam
semesta itu adalah Allah Bapa, Allah yang kita pikirkan sebgai Allah yang mengungkapkan
diri keluar itulah Allah Putra, dan Allah yang selalu membimbing kita itulah
Allah Roh Kudus. Mengakhiri kotbahnya romo Yansen yang adalah Pastor Paroki Santa
Maria Ratu Oeolo mengajak umat yang hadir agar bisa belajar dari Allah
Tritunggal yang walau berbeda cara pengungkapan diri tetapi tetap satu,
demikian juga kita umat walau berbeda-beda dalam berbagai hal tetapi kita harus
tetap satu saudara.
Pada
momentum perayaan ekaristi itu juga, kepala kantor Kementrian Agama Kabupeten
TTU yang diwakili oleh Kepala Seksi Pendidikan Katolik Pontinus Knaofmone,S.Ip, diberi kesempatan untuk memberikan sambutan
berkenan dengan moment kunjungan zavari kerukunan para penyuluh agama katolik
non PNS di paroki Oeolo. Dalam sambutannya beliau menyampaikan tiga mantra
mentri agama Lukman Hakim Saifudin yakni yang pertama urgensi moderasi beragama
dimana melalui moderasi beragama umat tidak tergelincir terhadap pemahaman
keagamaan yang ekstrem kiri atau ekstrim kanan, yang kedua pentingnya
kebersamaan agar kerukunan antar umat beragama terus dipertahankan seiring
dengan munculnya berbagai perbedaan ke permukaan dewasa ini. yang
ketiga integrasi data menjadi
sesuatu yang mutlak dan penting untuk mengoptimalkan pelayanan pemerintah. Itulah
yang mendorong kami bersama para penyuluh agama katolik non PNS berkunjung di
paroki Oeolou ntuk melihat lebih dekat sejauhmana kerukunan yang dibangun di
oeolo ini. Semoga kehadiran kami ini semakin meningkatkan kerukunan umat
beragama yang sudah terbina di paroki Oeolo ini.
Kunjungan
diakhiri dengan pertandingan persahabatan bola Volley putra/putri antara OMK
Paroki Oeolo dan Penyuluh agama katolik non PNS. Ketua rombongan Mikhael Nino
bersama semua penyuluh agama katolik non PNS kembali ke tempat tugas
masing-masing dengan penuh sukacita karena boleh mengenal lebih dekat umat
paroki Sta. Maria Ratu Oeolo. (Thomy
Sikone, penyuluh agama katolik non PNS paroki Kiupukan).
