Setiap
perbuatan pasti didasari oleh motivasi tertentu. Nilai perbuatan kita
sebenarnya ditentukan oleh niat dan motivasi kita yang terdalam. Kita sering
kali mengatakan bahwa apa yang kita lakukan itu adalah untuk orang lain padahal
dibalik itu tujuan kita adalah semata-mata untuk keuntungan kita pribadi. Teori
motivasi terpopuler adalah teori kebutuhan. Kebutuhanlah yang mendasari tindakan
kita. Ada empat jenis manusia berdasarkan kebutuhannya. Jenis manusia pertama
adalah Manusia Perut dan di bawah perut. Sesuai letaknya dalam
tubuh, ini menunjukan kualitas kemanusiaan terbawah. Manusia seperti ini hidup
semata-mata untuk perutnya. Inilah manusia UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Orang semacam
ini orientasinya adalah harta, tahta dan kebutuhan biologis. Bahasa kerennya
adalah Economic animal atau political animal. Jenis
manusia kedua naik ke atas sedikit; Manusia Hati orang ini
memiliki kebutuhan sosialisasi yang tinggi. Ia butuh bergaul dan memiliki
banyak kawan. Ketiga Manusia Otak. Inilah manusia yang rasional dan
memiliki kebutuhan untuk selalu berkembang dan kebutuhan belajar yang tinggi. Keempat
Manusia
Spritual, inilah manusia paripurna yang senantiasa mencari makna
terhadap apapun yang dikerjakannya.
Dimanakah posisimu? Apakah benar anda mau membaktikan
diri demi banyak orang? Hanya andalah yang mampu menjawabnya dalam relung hatimu
yang terdalam.
Ada sebuah ungkapan menarik dari Francois de la
Rochefoucould, seorang sastrawan Perancis, “Kita
harus sering merasa malu atas perbuatan baik kita, apabila orang melihat semua
motif yang melatarbelakanginya.” Coba anda renungkan ungkapan di atas
dalam-dalam kemudian cobalah lihat semua tindak-tanduk kita, apakah dasarnya
hanyalah untuk memuaskan kebutuhan perut kita yang tak pernah ada batasnya itu
ataukah untuk kepentingan banyak orang....?
Hanya kita sendirilah yang tahu apa niat kita
sebenarnya. Tetapi betapapun kita menyembunyikan niat dibalik kata-kata manis,
suatu ketika niat itu akan terbongkar juga. Semua orang betapapun sederhananya
memiliki “radar” untuk membaca motivasi dan ketulusan orang lain. Ini seperti cara yang disarankan ajaran Tao, “jangan
dengarkan apa yang mereka bicarakan, tetapi dengarkan apa yang tidak
dibicarakan. Lihatlah dan tataplah mereka dengan mata hati anda.
