Jangan percaya mitos bahwa menulis itu perlu
bakat. Bobot sebuah tulisan berhubungan dengan pengulangan-pengulangan. Makin
sering anda menulis, tulisan anda makin bernyawa. Tak pelak lagi, bakat
seringkali dijadikan kambing hitam ketika seorang merasa bukan benar-benar,
tidak mumpuni atau kurang berhasil dalam suatu bidang. Seorang yang tidak dapat
menyelesaikan sebuah pekerjaan selalu menempatkan “bakat” sebagai “terdakwa”.
Orang lalu berasumsi bahwa hanya yang berbakat yang dapat menyelesaikan satu
jenis pekerjaan dengan baik. Sebaliknya orang yang merasa dirinya tidak
berbakat punya alasan untuk tak perlu mencoba. Pada hal sebenarnya kemampuan
dalam menguasai jenis kegiatan atau pekerjaan tertentu adalah melalui
pengulangan-pengulangan, tidak berhenti dan terus berkesinambungan.
Demikian pula dengan menulis, banyak orang
mengeluh tidak punya bakat ketika mengalami kesulitan untuk berekspresi melalui
bahasa tulisan. Keyakinan
seperti inilah yang akhirnya makin mengubur kesempatan seseorang untuk
meningkatkan kualitasnya dan menciptakan hambatan-hambatan psikologis untuk
mengembangkan diri, karena lagi-lagi mereka menyerah di hadapan ketiadaan
bakat. Padahal jika disandingkan dengan kerja keras, keuletan dan belajar
secara kesinambungan, maka kontribusi bakat dalam membentuk kemampuan dan
keberhasilan seseorang menjadi kecil saja. Ada benarnya juga bahwa dalam
menulis bakat yang dalam hal ini menyangkut kepekaan intuisi kebahasaan
menulis, berperan dalam menghasilkan tulisan yang indah. Akan tetapi apalah
artinya bakat jika tidak pernah disiasiti dengan semangat belajar dan tidak
pernah lelah mencoba, toh pada akhirnya bakal tenggelam juga, bahkan
lama-kelamaan bisa lenyap tak berkelas.
Menulis intinya adalah mengolah imajinasi dan disinkronkan
dengan realitas skil dalam meramu segala hal yang berada di wilayah imajinasi. Ini pun terbukti
hanya bisa dibangun dengan beragam metode belajar. Seorang tidak akan
pernah menjadi penulis, apalagi penulis hebat jika
hanya akan mengandalkan bakat. Setiap orang bisa
menjadi penulis asal punya keinginan dan kemauan untuk belajar. Karena
sejatinya menulis adalah memindahkan kata-kata dan ucapan ke dalam bentuk
tulisan. Persoalannya adalah bagaimana kita mengolah imajinasi, melukiskan apa
yang dilihat dan dirasakan, memasukan roh atau jiwa ke dalam tulisan itu,
membuat tulisan menjadi hidup hingga mewarnai perasaan pembacanya. Menulis itu
gampang hanya ketika anda mendapatkan gagasan untuk ditulis janganlah ditunda.
Gagasan besar apa pun jika tidak segera diterjemahkan, tetaplah bertengger di
ruang gagasan. Silahkan mencoba.....