Friday, November 30, 2018

MENULIS; TAK PERLU BAKAT



Jangan percaya mitos bahwa menulis itu perlu bakat. Bobot sebuah tulisan berhubungan dengan pengulangan-pengulangan. Makin sering anda menulis, tulisan anda makin bernyawa. Tak pelak lagi, bakat seringkali dijadikan kambing hitam ketika seorang merasa bukan benar-benar, tidak mumpuni atau kurang berhasil dalam suatu bidang. Seorang yang tidak dapat menyelesaikan sebuah pekerjaan selalu menempatkan “bakat” sebagai “terdakwa”. Orang lalu berasumsi bahwa hanya yang berbakat yang dapat menyelesaikan satu jenis pekerjaan dengan baik. Sebaliknya orang yang merasa dirinya tidak berbakat punya alasan untuk tak perlu mencoba. Pada hal sebenarnya kemampuan dalam menguasai jenis kegiatan atau pekerjaan tertentu adalah melalui pengulangan-pengulangan, tidak berhenti dan terus berkesinambungan.
Demikian pula dengan menulis, banyak orang mengeluh tidak punya bakat ketika mengalami kesulitan untuk berekspresi melalui bahasa tulisan. Keyakinan seperti inilah yang akhirnya makin mengubur kesempatan seseorang untuk meningkatkan kualitasnya dan menciptakan hambatan-hambatan psikologis untuk mengembangkan diri, karena lagi-lagi mereka menyerah di hadapan ketiadaan bakat. Padahal jika disandingkan dengan kerja keras, keuletan dan belajar secara kesinambungan, maka kontribusi bakat dalam membentuk kemampuan dan keberhasilan seseorang menjadi kecil saja. Ada benarnya juga bahwa dalam menulis bakat yang dalam hal ini menyangkut kepekaan intuisi kebahasaan menulis, berperan dalam menghasilkan tulisan yang indah. Akan tetapi apalah artinya bakat jika tidak pernah disiasiti dengan semangat belajar dan tidak pernah lelah mencoba, toh pada akhirnya bakal tenggelam juga, bahkan lama-kelamaan bisa lenyap tak berkelas.
Menulis intinya adalah mengolah imajinasi dan disinkronkan dengan realitas skil dalam meramu segala hal yang berada di wilayah imajinasi. Ini pun terbukti hanya bisa dibangun dengan beragam metode belajar. Seorang tidak akan pernah menjadi penulis, apalagi penulis hebat jika hanya akan mengandalkan bakat. Setiap orang bisa menjadi penulis asal punya keinginan dan kemauan untuk belajar. Karena sejatinya menulis adalah memindahkan kata-kata dan ucapan ke dalam bentuk tulisan. Persoalannya adalah bagaimana kita mengolah imajinasi, melukiskan apa yang dilihat dan dirasakan, memasukan roh atau jiwa ke dalam tulisan itu, membuat tulisan menjadi hidup hingga mewarnai perasaan pembacanya. Menulis itu gampang hanya ketika anda mendapatkan gagasan untuk ditulis janganlah ditunda. Gagasan besar apa pun jika tidak segera diterjemahkan, tetaplah bertengger di ruang gagasan. Silahkan mencoba.....



No comments:

Post a Comment